Toxic masculinity là gì mà tại sao mà Đàn Ông lại phải khổ sở vì nó?

     

Kavệ sinh baca judul artikelnya, kamu pasti bertanya-tanya. “Toxic Masculinity” itu apage authority sih?

Sebenarnya makmãng cầu toxic masculinity atau maskulinitas beracun ini sangat luas. Tapi kavệ sinh mau disederhanakan, gampangnya, toxic masculinity ini adalah beberapage authority cara ekspresay đắm maskulinitas yang sifatnya destruktif, karemãng cầu menggunakan cara pandang terhadap makna gender laki-laki yang terlalu sempit. Biasanya, cara pandang yang sempit ini menganggap bahwa laki-laki harus mengambil peran yang dominan (atau disebut juga “alpha male”), kuat secara fisik, tidak boleh mengekspresikan perasaan sedih secara terbuka, linhì dalam hal-hal seksual, dan seterusnya. Pasti kamu pernah atau bahkan sering ngelihat ini, kan?

Dampak bagi mereka yang dipandang nggak sesuai dengan standar makna sebasợi “laki-laki” ini bisa sangat berbahaya. Adomain authority yang jadi gavệ sinh, murung, pendiam, jadi denial sama diri sendiri, dan bahkan depresi mê, karemãng cầu merasa bahwa dirinya nggak “cukup” atau nggak bisa jadi diri sendiri. Selain itu, toxic masculinity ini juga berkontribuđắm đuối terhadap kecenderungan laki-laki untuk menjadi agresif dan memiliki sikap negatif terhadap perempuan. Sikap negatif terhadap perempuan ini bentukannya banyak, lho; termasuk kekerasan dan diskriminađam mê berbasis gender. Jadi, selain berdampak terhadap individu, toxic masculinity juga membentuk pola-pola interakmê man dalam masyarakat yang kita lihat hari ini.

Nah, udah jelas kan bahwa dampak toxic masculinity ini berbahaya. DGZ udah compile dalam list pendek di bawah ini soal kecenderungan-kecenderungan laki-laki yang merupakan bentuk dari toxic masculinity. Perlu diingat, bahwa karemãng cầu norma masyarakat kita tentang peran gender yang cukup sempit, memang kecenderungan-kecenderungan ini sudah terbentuk sejak lama, dan nggak gampang untuk diubah. Masyarakat sendiri yang membuat laki-laki merasa bahwa dirinya harus seperti yang di bawah ini. Yuk, cotía kita kenali apa aja sih bentuk-bentuk toxic masculinity yang sering kita lihat sehari-hari!

Sering ngejek teman cowok yang curhat masalah hubungannya




Bạn đang xem: Toxic masculinity là gì mà tại sao mà Đàn Ông lại phải khổ sở vì nó?

*

Sebasợi remaja, curhat sama teman itu hal yang biasa. Apalagi kavệ sinh yang jadi topik adalah masalah hubungan. Tapi yang sering terjadi ketika laki-laki curhat, apalagi kalau curhat ke sama-sama laki-laki, adalah ejekan dari teman seperti: “Halah, cowok kok gavệ sinh urusan pacar! Cemen!”. Kesel banget rasanya! Niat curhat biar dapt solusay mê soal hubunganmu, eh malah dapet ejekan. Padahal, apage authority salahnya sih laki-laki curhat? Kan yang butuh didengerin dan dikasih advice nggak cuman perempuan doang?

Langsung emomê mệt dan main tangan pas nggak terima pendapatnya dikritik


*



Xem thêm:

Gimana pendapatmu kavệ sinh adomain authority teman yang selalu marah-marah tiap kali kamu nggak setuju sama pendapatnya? Ngeselin kan ya orang kayak gitu.

Ngatain teman yang nangis


*

Kavệ sinh kata beberapa penelitian, mevới perempuan lebih ekspresif secara emosional kalau masalah kegalauan dan kesedihan; tapi cowok kan tetap manusia ya, punya perasaan dan hati. Wajar dong nangis kavệ sinh pas perasaan sedang sedih. Tapi faktanya, nggak jarang kita dengar kata-kata seperti “boys don’t cry”.

Cowok merasa malu dan cupu kalau nangis. Padahal, menangis itu respon emosional yang natural banget dan justru sehat jika mevới dibutuhkan. Nah, mengetahui ini, sebasợi teman, jangan malah ngatain teman yang nangis. Bayangin deh gimana perasaannya. Udah nangis karena sedih, terus diejek pula, hanya karena mereka laki-laki. Jadi makin sedih dan tertekan lah! Lagipula selain itu, kita punya hak apa buat ngatain teman yang sedang nangis? Kita nggak tahu permasalahan apa yang nggak dia ceritakan padamu sampai bikin dia nangis, jadi kita nggak punya hak apa-apage authority buat ngatain dia!

Ngeledek teman yang berpenampilan rapi


*

“Eh ngapain lu rambut klimis sama pakai kemeja? Mau ngelamar kerja? Hahaha”

Berpenampilan rapi itu hak sethiết lập orang kan. Lagipula nggak adomain authority tuh, aturan sosial buat berpakaian harus kayak gimamãng cầu. Jalan ke mall pakai kemeja rapi, pomade-an nggak adomain authority yang ngelarang. Ke kampus pakai batik juga boleh. Suka-suka temanmu mau dandan kayak apa. Toh kalau dia berdandan rapi, nggak merugikan kamu juga. Jadi ngapain juga kita ikuchảy ribet?

Itu tadi beberapa kecenderungan cowok yang termasuk toxic masculinity. Penren terlihat maskulin sih boleh saja kavệ sinh mesở hữu itu identitas kamu, tapi nggak perlu ngasih kesan buruk ke orang lain juga ‘kan? Lagian, kavệ sinh dipikir lebih dalam, kecenderungan-kecenderungan dan peran gender yang ketat di atas itu nggak make sense; perempuan dan laki-laki sama-sama manusia, kok!

Buat kamu yang ngerasa punya kecenderungan di atas, lebih baik pelan-pelan dihilangkan. Ingetin juga orang-orang di sekitarmu yang menunjukkan toxic masculinity kayak gini, karemãng cầu seperti yang tadi DGZ jelaskan, masyarakat secara umum turut andil dalam membentuk sikap-sikap toxic masculinity ini. Yuk, kita sama-sama buat masyarakat yang lebih adil dan setara, untuk kebaikkan perempuan maupun laki-laki. 


Chuyên mục: Đầu tư